Sumber energi terbarukan menyumbang hampir 26 persen dari total produksi listrik Amerika Serikat selama sepuluh bulan pertama tahun 2025. Hal ini didorong oleh peningkatan signifikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang kembali mencatat rekor baru, berdasarkan analisis lembaga pemantau energi, Sun Day Campaign.
Dalam laporannya, Sun Day Campaign menyebutkan bahwa energi surya menyumbang lebih dari 9 persen dari total produksi listrik nasional pada periode Januari–Oktober 2025, sementara tenaga angin berkontribusi sebesar 9,9 persen. Secara gabungan, pembangkit listrik tenaga surya dan angin meningkat 12,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menyumbang 18,9 persen dari total produksi listrik AS.
Produksi listrik dari energi surya bahkan melampaui pembangkit listrik tenaga air (hidro) lebih dari 67 persen, serta menghasilkan listrik lebih besar dibandingkan gabungan energi hidro, biomassa, dan panas bumi.
Dari sisi kapasitas terpasang, energi surya memimpin penambahan pembangkit baru dengan tambahan 19.477,6 megawatt (MW) dari sistem skala utilitas dan 4.837,7 MW dari sistem skala kecil sejak awal tahun. Sementara itu, kapasitas penyimpanan energi berbasis baterai tumbuh pesat sebesar 45 persen dengan tambahan 12.150,3 MW. Dalam 12 bulan ke depan, direncanakan penambahan kapasitas baterai sebesar 21.940,4 MW.
Kapasitas pembangkit listrik tenaga angin juga meningkat sebesar 3.796 MW, dengan proyeksi tambahan 9.567 MW untuk pembangkit darat (onshore) dan 800 MW untuk pembangkit lepas pantai (offshore) dalam setahun ke depan.
Sebaliknya, kapasitas pembangkit berbahan bakar gas alam hanya bertambah 3.479,6 MW, sementara pembangkit listrik tenaga batu bara mengalami penurunan kapasitas sebesar 3.241,1 MW. Adapun pembangkit listrik tenaga nuklir hanya mencatat tambahan sebesar 46 MW.
Sun Day Campaign memperkirakan seluruh penambahan kapasitas pembangkit listrik bersih pada tahun 2026 akan berasal dari energi terbarukan dan sistem penyimpanan baterai.
Direktur Eksekutif Sun Day Campaign, Ken Bossong, menyatakan bahwa pertumbuhan energi terbarukan dan baterai telah jauh melampaui bahan bakar fosil dan energi nuklir, meskipun menghadapi berbagai hambatan kebijakan.
“Jelas bahwa, terlepas dari berbagai hambatan yang muncul, energi terbarukan dan penyimpanan baterai tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan bahan bakar fosil dan nuklir,” ujarnya.
Ia menambahkan, energi terbarukan dan baterai berpotensi menyumbang 100 persen dari seluruh penambahan kapasitas pembangkit listrik baru pada tahun depan.